You are currently viewing Kampung Zombie: Ketika Kehidupan Berjuang di Tengah Kepungan Banjir Jakarta

Kampung Zombie: Ketika Kehidupan Berjuang di Tengah Kepungan Banjir Jakarta

berjuang hidup di Kampung Zombie

Bukan sekadar julukan tanpa makna, Kampung Zombie menggambarkan realitas yang menghantui kawasan Cililitan, Jakarta Timur.

Nama ini lahir dari pemandangan yang mengerikan: rumah-rumah yang seolah hidup di lantai atas, sementara bagian

bawahnya mati—sunyi, gelap, penuh dengan lumpur dan sisa-sisa banjir yang tak pernah benar-benar pergi.

Kampung Zombie

Di tepian sungai yang membelah Jakarta, kehidupan terus berjalan, meski terasa seperti bangkit dari kubur setiap harinya.

Para penghuni beraktivitas di lantai dua atau tiga rumah mereka, sementara lantai dasar dibiarkan hancur oleh

endapan tanah dan air yang kotor. Kampung ini telah lama menjadi langganan banjir kiriman dari Bogor,

yang kemudian memunculkan julukan zombie yang melekat erat.

Siti Khoirul Inayah, seorang reporter dari Tuna55, mengunjungi Kampung Zombie pada Kamis sore, 7 Januari 2026.

Ia menyaksikan secara langsung kontras yang begitu jelas antara bangunan-bangunan di sana. Beberapa rumah

tampak menjulang tinggi, ditinggikan hingga beberapa meter, seolah menantang banjir yang akan datang.

Di sisi lain, bangunan-bangunan tua terlihat tenggelam, rendah, dan rapuh.

Di beberapa sudut, lantai dasar rumah telah berubah menjadi galeri lumpur, bukan lagi ruang keluarga yang hangat.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, Yudi (50) tetap bertahan. Pedagang bakso cuanki yang berasal

dari Cikarang ini telah lebih dari setahun menyewa rumah di Kampung Zombie bersama anaknya.

Alasan Yudi sangat sederhana: harga sewa yang terjangkau.

Menurutnya, harga yang murah ini sebanding dengan risiko yang harus dihadapi. Kontrakan dengan harga

rendah biasanya memiliki fasilitas kamar mandi di luar rumah, yang harus digunakan bersama oleh lima hingga enam keluarga.

Kalau yang Rp300 ribu sampai Rp400 ribu itu kamar mandinya di luar, jadi kalau mau mandi harus antre.

Kalau yang Rp600 ribu sampai Rp1,2 juta baru kamar mandinya di dalam, jelasnya.

Yudi memutuskan untuk pindah ke Cililitan setelah mendapat saran dari sesama pedagang, yang

mengatakan bahwa Jakarta menawarkan potensi penghasilan yang lebih besar. Namun, kenyataan

yang ia hadapi tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan.

Penghasilan enggak jauh beda sama di Cikarang. Bedanya, di sini harus siap menghadapi banjir, keluhnya dengan nada lirih.

Banjir Kiriman: Ketika Air Menggenangi Segalanya

Banjir yang melanda Kampung Zombie bukanlah banjir biasa yang disebabkan oleh hujan lokal.

Ancaman yang sebenarnya datang ketika hujan deras mengguyur kawasan hulu.

Kalau hujan di sini mah enggak banjir. Kalau hujan di Bogor, baru banjir, kata Yudi.

Banjir terparah yang pernah ia alami bahkan mencapai atap rumahnya hingga game Tuna55 nya terendam banjir juga. Pada kejadian terakhir,

air setinggi dua meter merendam hampir seluruh wilayah kampung.

Rumah-Rumah Ditinggalkan: Kampung Semakin Sepi

Jumlah penduduk Kampung Zombie terus mengalami penurunan. Berdasarkan informasi dari

warga setempat dan ketua RT yang beredar di media sosial, dari sekitar 23 kartu keluarga, kini hanya tersisa sekitar 13 kartu keluarga.

Banyak rumah yang ditinggalkan, terutama bagian bawahnya. Lumpur yang mengering,

pintu-pintu yang tertutup rapat, dan jendela-jendela yang kosong semakin menambah kesan sunyi

dan mencekam. Inilah yang membuat kampung ini terasa begitu menyeramkan, terutama saat malam mulai tiba.

Leave a Reply