Bagi para penggemar Star Wars, suku Ewok selalu menjadi salah satu ras paling ikonik dan menggemaskan.
Makhluk berbulu pendek yang mendiami hutan bulan Endor ini tampil sekilas seperti perpaduan antara boneka beruang
dan kurcaci. Di balik kelucuan mereka, ternyata tersimpan fakta budaya dan linguistik yang jarang
diketahui: bahasa yang mereka gunakan dalam film terinspirasi dari Bahasa Kalmyk, sebuah bahasa kuno yang kini terancam punah.
Ewok, Makhluk Ikonik dari Bulan Endor
Ewok pertama kali muncul dalam film Return of the Jedi (1983) sebagai penduduk asli Endor yang akhirnya
membantu Aliansi Pemberontak melawan Kekaisaran. Suara mereka terdengar asing, cepat, dan penuh
intonasi unik—cukup untuk membuat penonton yakin bahwa mereka benar-benar berasal dari galaksi
yang sangat jauh. Namun, bahasa tersebut sama sekali bukan hasil ciptaan fiksi murni.
Di balik layar, bahasa Ewok dirancang oleh sound designer legendaris Ben Burtt, sosok jenius di balik
berbagai efek suara ikonik Star Wars, termasuk dengungan lightsaber dan suara R2-D2. Burtt dikenal
memiliki pendekatan unik: ia sering mengambil bahasa atau dialek nyata di Bumi, lalu mengolahnya
sedemikian rupa agar terdengar asing namun tetap alami di telinga manusia.
Ketika Burtt pertama kali mendengar Bahasa Kalmyk, ia merasa bahasa ini memiliki ritme, pelafalan, dan
nuansa yang sangat berbeda dari bahasa-bahasa Eropa Barat yang umum didengar penonton. Keasingan inilah
yang membuatnya cocok untuk digunakan sebagai dasar bahasa Ewok—asing, namun hidup.
Bahasa Asing di Galaksi Jauh: Bukan Sekadar Fiksi
Bahasa Kalmyk sendiri berasal dari bangsa Kalmyk, kelompok etnis Mongolik yang sebagian besar tinggal
di wilayah Republik Kalmykia di Rusia bagian selatan, dekat Laut Kaspia. Bahasa ini memiliki akar panjang
dalam tradisi lisan, legenda rakyat, dan nyanyian kuno yang diwariskan turun-temurun.
Pengisi suara Ewok ternyata adalah seorang perempuan lanjut usia bernama Kosi Unkova, anggota suku Kalmyk
yang lahir pada tahun 1899 di Desa Batlaev, Kekaisaran Rusia. Dalam perjalanan hidupnya, Kosi bermigrasi
ke Eropa lalu ke Amerika Serikat, hingga akhirnya menetap di California. Secara tak terduga, latar belakang
budayanya membawanya ke dalam sejarah sinema dunia.
Kesempatan itu datang ketika seorang kenalan keluarga memberi tahu bahwa Lucasfilm sedang mencari
bahasa yang terdengar unik dan belum dikenal luas untuk film terbaru mereka. Bahasa Kalmyk pun dipilih.
Kosi kemudian merekam berbagai cerita rakyat, dongeng tradisional, dan lagu-lagu Kalmyk, yang lalu dipotong,
dipercepat, dan disusun ulang untuk membentuk dialog Ewok.
Makna Tersembunyi di Balik Seruan “Yov-yov!”
Menariknya, beberapa ucapan Ewok memiliki arti literal. Seruan “Yov-yov!” yang sering terdengar, misalnya,
secara harfiah berarti “Pergi, pergi!” dalam Bahasa Kalmyk. Dengan kata lain, di balik suara imut Ewok,
tersembunyi makna nyata dari sebuah bahasa kuno.
Namun, kisah ini juga menyimpan sisi melankolis. Menurut UNESCO, Bahasa Kalmyk kini berada di
ambang kepunahan. Di Rusia, berdasarkan sensus tahun 2021, jumlah penutur aktifnya diperkirakan
hanya sekitar 107 ribu orang, dan angka tersebut terus menurun seiring berjalannya waktu.
Ironisnya, salah satu “jejak” paling dikenal Bahasa Kalmyk di dunia justru hadir lewat film fiksi ilmiah populer.
Ewok, makhluk kecil dari galaksi jauh, tanpa disadari telah menjadi pengingat bahwa bahasa adalah warisan budaya
yang rapuh. Di balik hiburan dan fantasi Star Wars, terselip kisah nyata tentang bahasa, migrasi, dan
identitas—sebuah pengingat bahwa bahkan dalam film luar angkasa, Bumi dan sejarah manusianya tetap ikut berbicara. Tuna55