You are currently viewing Putra Sulung Taipan Indonesia Andre Tanoto Ekspansi Diam-Diam ke Aset Ritel Singapura

Putra Sulung Taipan Indonesia Andre Tanoto Ekspansi Diam-Diam ke Aset Ritel Singapura

Putra sulung taipan Indonesia Sukanto Tanoto, yakni Andre Tanoto, dilaporkan mulai memperluas jejak investasinya di Singapura melalui akuisisi sejumlah aset ritel bernilai besar. Langkah ini dilakukan secara relatif senyap melalui sebuah kendaraan investasi swasta yang dikaitkan dengan Altallo Asset Management, sebuah perusahaan pengelola dana yang baru berdiri namun telah menarik perhatian pelaku industri properti.

Andre Tanoto Selesaikan Pembelian

Dalam beberapa bulan terakhir, entitas yang terkait dengan Altallo dikabarkan telah menyelesaikan pembelian empat unit ritel HDB (Housing & Development Board) berformat besar pada Desember lalu. Properti tersebut berlokasi di area strategis, yakni Bukit Merah Central, serta kawasan dekat stasiun MRT Toa Payoh, Ang Mo Kio, dan Clementi. Nilai transaksi keseluruhan diperkirakan berada di kisaran S$160 juta atau lebih.

Keempat unit ritel tersebut sebelumnya dimiliki oleh Lian Beng Group, yang mengakuisisi aset tersebut pada tahun 2016 dengan nilai sekitar S$151 juta. Luas strata masing-masing unit berkisar antara hampir 24.000 kaki persegi hingga lebih dari 30.000 kaki persegi, dengan total luas gabungan sekitar 104.800 kaki persegi. Skala ini menjadikan aset tersebut sebagai unit ritel HDB berformat besar yang jarang diperdagangkan di pasar sekunder.

Tak berhenti di situ, Altallo juga dilaporkan telah membayar sekitar S$90 juta untuk mengakuisisi sembilan properti ritel yang sebelumnya dibeli oleh grup properti JBE dari Mercatus pada tahun 2024 dengan harga sekitar S$80 juta. Portofolio tersebut mencakup ruang komersial dan ritel di sejumlah kawasan perumahan HDB matang, seperti Bukit Merah Central, Aljunied Avenue 2, Hougang Avenue 3 dan 4, Teck Whye Lane, serta Holland Drive. Selain itu, terdapat pula ruko di Tampines Street 11, Jurong West Street 41, dan Clementi Avenue 2, dengan total luas strata sekitar 60.000 kaki persegi.

Menurut sumber pasar, entitas yang sama kini juga tengah melakukan uji tuntas eksklusif untuk potensi pembelian portofolio terbaru yang terdiri dari 11 aset ritel lain yang kembali dipasarkan oleh Mercatus pada kuartal keempat 2025. Harga indikatif untuk portofolio ini disebut berada di kisaran S$307 juta. Aset-aset tersebut meliputi ruang ritel strata di Coronation Shopping Plaza dan Bukit Timah Plaza, serta sembilan toko komersial HDB yang tersebar di berbagai lokasi strategis.

Perusahaan Berkembang di Industri

Nama Altallo semakin sering disebut di kalangan pelaku industri setelah beredar kabar bahwa perusahaan ini juga menjadi salah satu calon pembeli i12 Katong, sebuah pusat perbelanjaan ikonik di persimpangan East Coast Road dan Joo Chiat Road. Mal tersebut diam-diam dipasarkan sejak sekitar November 2025 dengan harga yang diminta di atas S$350 juta, lebih rendah dibandingkan penawaran sebelumnya yang hampir menyentuh S$470 juta beberapa tahun lalu. Altallo disebut telah melakukan uji tuntas terhadap aset tersebut, dengan nilai transaksi yang dikabarkan mendekati S$370 juta.

Saat ini, i12 Katong berdiri di atas lahan komersial dengan masa sewa 99 tahun sejak Agustus 1979, menyisakan sekitar 52,5 tahun. Properti enam lantai dengan dua basement parkir ini dimiliki oleh Keppel dan memiliki luas bersih yang dapat disewakan sekitar 212.000 kaki persegi. Dengan harga sekitar S$370 juta, valuasinya setara dengan kurang lebih S$1.750 per kaki persegi. Penyewa utama mal ini mencakup jaringan bioskop Golden Village, supermarket CS Fresh, PS Cafe, serta pusat kebugaran Core Collective.

Pendiri Altallo

Altallo sendiri didirikan pada tahun lalu dan dimiliki oleh Roger Tan serta Seah Jun Hao, berdasarkan penelusuran di portal korporasi Singapura. Meski struktur kepemilikannya tidak secara eksplisit menyebut keluarga Tanoto, pengamat industri menilai bahwa sumber dana di balik Altallo kemungkinan berasal dari sekelompok investor keluarga, dengan Tanoto disebut-sebut sebagai kontributor terbesar.

Andre Tanoto, yang berusia sekitar 40-an tahun dan berkewarganegaraan Singapura serta berstatus penduduk tetap Indonesia, dikenal sebagai satu-satunya dari empat anak Sukanto Tanoto yang tidak duduk di jajaran manajemen eksekutif Royal Golden Eagle (RGE). Meski demikian, langkah investasinya di sektor properti ritel Singapura menandai babak baru dalam kiprah bisnisnya, terpisah dari imperium keluarga yang bergerak di bidang pulp dan kertas, minyak sawit, serta energi terpadu.

Melalui rangkaian akuisisi ini, Altallo dan Andre Tanoto tampak memposisikan diri sebagai pemain baru Tuna55 yang patut diperhitungkan di pasar properti ritel Singapura, khususnya pada aset-aset bernilai strategis di kawasan perumahan matang dan lokasi premium.

Leave a Reply