
Hamparan sampah yang mengapung di perairan Muara Baru, Jakarta Utara, bukan lagi pemandangan yang mengejutkan. Setiap kali air laut pasang dan aliran sungai membawa kiriman dari hulu, kawasan pelabuhan perikanan terbesar di Jakarta itu berubah menjadi lautan sampah. Plastik, styrofoam, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga bercampur dengan air laut yang keruh dan berbau menyengat.
Namun, di balik persoalan visual dan bau tak sedap, ancaman kesehatan serius mengintai warga, nelayan, hingga pekerja pelabuhan. Risiko yang muncul bukan hanya penyakit kulit, tetapi juga penyakit infeksi, gangguan pernapasan, hingga potensi krisis kesehatan jangka panjang.
Muara Baru Sampah Menumpuk, Air Jadi Media Penyakit
Tumpukan sampah yang membusuk di perairan Muara Baru menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri dan virus berkembang. Air yang tercemar menjadi media penularan berbagai penyakit, terutama bagi warga yang aktivitasnya bersentuhan langsung dengan laut, seperti nelayan, buruh bongkar muat, dan pedagang ikan.
Penyakit kulit seperti gatal-gatal, infeksi jamur, dan dermatitis memang paling sering dikeluhkan. Namun, tenaga kesehatan setempat menyebut ancaman yang lebih serius justru datang dari bakteri patogen yang dapat masuk ke tubuh melalui luka kecil di kulit.
“Air yang sudah tercemar sampah dan limbah bisa membawa banyak bakteri berbahaya. Kalau ada luka terbuka, risikonya bukan hanya gatal, tapi bisa infeksi serius,” ujar seorang petugas kesehatan di wilayah Jakarta Utara.
Ancaman Penyakit Saluran Pernapasan
Bukan hanya kontak langsung dengan air yang berbahaya. Bau busuk dari yang membusuk menghasilkan gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida dalam kadar rendah, namun jika terpapar terus-menerus dapat memicu gangguan pernapasan.
Warga sekitar Muara Baru mengaku sering mengalami batuk, sesak napas, hingga iritasi mata, terutama saat cuaca panas dan angin membawa aroma sampah ke permukiman.
“Kalau angin ke darat, baunya menusuk sekali. Anak-anak sering batuk dan mata perih,” kata seorang warga yang tinggal tak jauh dari pelabuhan.
Risiko Penyakit Pencernaan dan Zoonosis
Sampah organik yang menumpuk juga mengundang tikus, lalat, dan serangga, yang menjadi vektor penyakit. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit pencernaan seperti diare, tifus, hingga leptospirosis—penyakit yang ditularkan melalui air yang terkontaminasi urine tikus.
Ironisnya, Muara Baru merupakan pusat aktivitas perikanan, tempat ikan segar didaratkan sebelum didistribusikan ke pasar. Jika sanitasi buruk, kontaminasi bisa terjadi sejak di pelabuhan.
“Kalau lingkungan kotor, risiko pencemaran ikan juga meningkat. Ini bisa berdampak ke konsumen,” ujar pengamat kesehatan lingkungan.
Dampak Jangka Panjang bagi Ekosistem
Masalah di Muara Baru tidak berhenti pada kesehatan manusia. Ekosistem laut juga mengalami tekanan berat. Plastik yang terurai menjadi mikroplastik berpotensi masuk ke rantai makanan, dikonsumsi ikan, lalu kembali ke manusia.
Peneliti lingkungan menyebut bahwa paparan mikroplastik dalam jangka panjang dapat berdampak pada sistem hormon dan metabolisme tubuh, meski riset masih terus berkembang.
“Ini bom waktu. Sampah hari ini bisa berdampak pada kesehatan manusia bertahun-tahun ke depan,” kata seorang akademisi kelautan.
Upaya Pembersihan Belum Menyentuh Akar Masalah
Pemerintah daerah secara rutin melakukan pengangkutan sampah di kawasan Muara Baru, terutama saat volume meningkat drastis. Namun, upaya ini dinilai belum menyentuh akar persoalan, yakni kebiasaan membuang sampah sembarangan dan buruknya pengelolaan sampah dari hulu.
Sebagian besar yang mengapung di Muara Baru berasal dari aliran sungai yang melintasi kawasan padat penduduk di Jakarta dan sekitarnya. Tanpa perubahan sistemik, Muara Baru akan terus menjadi “muara” bagi masalah lingkungan ibu kota.
Warga Terjepit di Tengah Masalah
Bagi warga Tuna55 sekitar, kondisi ini menjadi dilema. Mereka bergantung pada laut dan pelabuhan untuk penghidupan, tetapi juga harus menanggung dampak kesehatan dari pencemaran yang terjadi.
“Kami mau pindah juga tidak bisa. Hidup kami di sini, tapi risikonya besar,” ujar seorang nelayan.
Lebih dari Sekadar Masalah Sampah
Lautan sampah Muara Baru bukan sekadar persoalan kebersihan kota. Ia adalah cermin persoalan lingkungan, kesehatan, dan tata kelola perkotaan yang saling berkaitan. Selama penanganan hanya berfokus pada pembersihan permukaan, ancaman penyakit akan terus mengintai mereka yang hidup dan bekerja di kawasan ini.
Muara Baru mengingatkan bahwa krisis sampah bukan hanya soal estetika, melainkan soal keselamatan dan kualitas hidup manusia.