KRL Jakarta–Cikampek hingga Sukabumi Akan Dioperasikan Danantara – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara)
tengah menyiapkan peta jalan pengembangan jalur baru Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line.
Rencana tersebut mencakup pengoperasian layanan KRL di lima kota,
termasuk perpanjangan lintasan Commuter Line Jabodetabek pada rute Jakarta–Cikampek serta Jakarta–Sukabumi.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa masterplan yang disusun sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperluas sistem transportasi massal berbasis kereta api.
Ia menuturkan, program tersebut meliputi elektrifikasi jalur Jakarta–Cikampek, Jakarta–Rangkasbitung, hingga Jakarta–Sukabumi.
Selain itu, elektrifikasi jaringan kereta juga akan dikembangkan di lima kota lain di Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan dalam rapat kerja dan rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).
Penguatan Industri Perkeretaapian KRL Jakarta–Cikampek
Tak hanya fokus pada pengembangan jaringan KRL, Danantara juga menaruh perhatian pada penguatan hilirisasi industri perkeretaapian,
khususnya di sektor manufaktur. Upaya ini dilakukan melalui optimalisasi pabrik milik PT INKA (Persero),
agar produksi gerbong dan sarana perkeretaapian dapat sepenuhnya dilakukan di dalam negeri.
Dony mengungkapkan, saat ini Danantara memiliki tiga fasilitas manufaktur perkeretaapian,
yakni di Madiun dan dua lokasi di Banyuwangi. Ke depan, kapasitas produksi di Banyuwangi masih akan terus diperluas.
Ia menegaskan bahwa ke depan seluruh proses perawatan, perbaikan,
hingga manufaktur industri perkeretaapian akan dipusatkan di PT INKA sebagai bagian dari strategi penguatan industri nasional.
Hilirisasi Baja untuk Dukung Industri Strategis
Lebih lanjut, Dony menyampaikan bahwa peta jalan tersebut selaras dengan masterplan hilirisasi industri baja dari sisi hulu.
Menurutnya, ketersediaan baja dalam negeri menjadi faktor penting dalam mendukung industri perkeretaapian yang bersifat strategis.
Untuk memperkuat hal tersebut, Danantara berencana membangun pabrik baja baru dengan kapasitas produksi mencapai 3 juta ton.
Proyek hilirisasi industri baja itu dijadwalkan akan mulai dibangun melalui proses peletakan batu pertama pada bulan depan.
Pembangunan fasilitas tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor baja.
Dony menilai, dukungan dan keberpihakan pemerintah sangat dibutuhkan agar industri baja nasional mampu bersaing secara berkelanjutan.
Selain itu, Danantara juga berkomitmen melakukan pembenahan terhadap PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai produsen baja
terbesar di Tanah Air. Menurut Dony, kondisi Krakatau Steel saat ini mulai menunjukkan perbaikan dan bergerak menuju fase yang lebih sehat.
Ia menyebutkan, Danantara telah melakukan sejumlah langkah intervensi dan penyegaran,
khususnya dari sisi keuangan, guna memperkuat kinerja perusahaan Tuna55 ke depan.