You are currently viewing Bukan Letusan Biasa, Erupsi Kimberlit Jadi “Lift Ekstrem” Berlian ke Permukaan Bumi

Bukan Letusan Biasa, Erupsi Kimberlit Jadi “Lift Ekstrem” Berlian ke Permukaan Bumi

Jawaban atas misteri itu kini semakin jelas lewat riset geologi modern. Kuncinya terletak pada fenomena alam yang sangat langka dan eksplosif, yakni erupsi kimberlit—jenis letusan magma yang bekerja jauh lebih cepat dan brutal dibandingkan gunung api biasa.

Berlian dikenal sebagai salah satu material paling keras dan bernilai tinggi di dunia. Namun selama puluhan tahun, para ilmuwan dibuat penasaran oleh satu pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin batu mulia yang terbentuk jauh di dalam perut Bumi bisa muncul ke permukaan tanpa hancur atau berubah menjadi grafit?

Penelitian mutakhir yang dipimpin Profesor Thomas Gernon dari University of Southampton bersama tim dari University of Oslo mengungkap bahwa perjalanan berlian ke permukaan Bumi merupakan perlombaan ekstrem yang dipicu oleh pergerakan benua.

Awal Mula dari Retaknya Superkontinen

Proses ini bermula jutaan tahun lalu saat superkontinen raksasa seperti Gondwana mulai terpecah. Perpisahan daratan besar—yang dahulu menyatukan Afrika dan Amerika Selatan—menimbulkan efek berantai hingga ke lapisan mantel Bumi.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature menemukan pola menarik: sebagian besar erupsi kimberlit terjadi sekitar 22 hingga 30 juta tahun setelah superkontinen mulai terbelah. Ketika lempeng tektonik bergerak menjauh, mantel atas dan kerak bawah menjadi tidak stabil, menciptakan “pemicu” yang mendorong material dari kedalaman ekstrem ke arah permukaan.Erupsi

Erupsi Kimberlit, Pipa Berlian Supercepat

Berlian terbentuk di kedalaman sekitar 150 kilometer di bawah permukaan Bumi. Untuk mengangkutnya, alam menciptakan jalur vertikal yang dikenal sebagai pipa kimberlit.

Berbeda dengan magma gunung berapi biasa yang mengalir lambat, magma kimberlit bergerak dengan kecepatan luar biasa—bahkan mencapai sekitar 133 kilometer per jam. Kecepatan ini krusial karena berlian harus “dievakuasi” secepat mungkin agar tidak berubah menjadi grafit akibat suhu tinggi.

Dalam hitungan jam, berlian-berlian tersebut terlontar ke permukaan melalui ledakan dahsyat, lalu membeku sebagai batu permata yang kemudian ditemukan manusia.

Peran Krusial CO₂ dan Air

Kekuatan erupsi kimberlit ternyata sangat bergantung pada komposisi kimianya. Penelitian lain yang dipimpin Ana Anzulović dan dipublikasikan di jurnal Geology menunjukkan bahwa magma kimberlit harus mengandung setidaknya 8,2 persen karbon dioksida (CO₂).

CO₂ bertindak seperti gelembung dalam minuman bersoda, menciptakan tekanan besar yang mendorong magma ke atas. Sementara itu, kandungan air membuat magma tetap encer dan mudah melesat melalui celah-celah batuan keras di kerak Bumi. Tanpa kombinasi ini, magma akan terjebak di kedalaman, dan berlian tak pernah mencapai permukaan.

Jendela Langka ke Dalam Perut Bumi

Selain bernilai ekonomi, erupsi kimberlit juga menjadi harta karun ilmiah. Magma yang melaju cepat sering membawa xenolit—pecahan batu dari mantel dalam—yang berfungsi sebagai “kapsul waktu” bagi para ilmuwan untuk mempelajari kondisi Bumi purba.

Menariknya, pipa kimberlit hampir selalu ditemukan di kraton, yakni bagian tertua dan paling stabil dari kerak benua. Struktur kuno ini menyediakan jalur ideal bagi magma untuk naik dengan efisien.

Panduan Baru Mencari Berlian

Pemahaman baru tentang waktu dan komposisi erupsi kimberlit kini menjadi peta penting bagi Tuna55 dalam menjalankan eksplorasi berlian masa depan. Alih-alih mencari secara acak, geolog dapat menelusuri wilayah bekas perpecahan superkontinen dan mendeteksi jejak kimia kimberlit kaya CO₂.

Temuan ini menegaskan bahwa berlian bukan sekadar perhiasan mewah, melainkan saksi perjalanan ekstrem dari kedalaman planet—dibawa ke permukaan oleh kekuatan tektonik yang sama yang membentuk benua tempat manusia hidup saat ini.

Leave a Reply