You are currently viewing Perawat, Inovator, Pendidik: Joyce Er dan Misi Membawa Perawatan Rumah Sakit ke Rumah Pasien

Perawat, Inovator, Pendidik: Joyce Er dan Misi Membawa Perawatan Rumah Sakit ke Rumah Pasien

Di banyak keluarga, obrolan soal pekerjaan sering berhenti di meja makan karena perbedaan profesi. Namun tidak demikian di keluarga Joyce Er. Dengan tiga anggota keluarga lain yang juga berprofesi sebagai perawat, diskusi tentang dunia keperawatan menjadi bahasa bersama—tentang pasien, pelayanan, dan empati.

Kini berusia 48 tahun, Joyce Er merupakan anak tertua dan orang pertama di keluarganya yang memilih keperawatan sebagai jalan hidup. Lebih dari 26 tahun berkarier, ia telah menempuh lintasan panjang: dari rumah sakit akut, layanan onkologi khusus, hingga perawatan berbasis rumah. Saat ini, ia menjabat sebagai pemimpin keperawatan bidang pendidikan dan pelatihan di NUHS@Home, sekaligus Perawat Praktik Lanjutan di Rumah Sakit Alexandra.

Perjalanan Karir Joyce Er

Perjalanan profesionalnya dimulai pada 1999 setelah menyelesaikan diploma keperawatan di Politeknik Nanyang. Tahun-tahun awal dihabiskan di Rumah Sakit Wanita dan Anak KK, menjalani rotasi kebidanan, ginekologi, serta ICU medis, bedah, dan pediatrik. Titik balik penting datang pada 2003 saat wabah SARS, ketika ia ditugaskan ke Rumah Sakit Tan Tock Seng untuk membantu mendirikan ICU pediatrik sementara. Pengalaman itu menegaskan makna tanggung jawab perawat—dan membuka keinginannya untuk berkontribusi lebih luas.

Joyce kemudian menempuh pendidikan Sarjana Keperawatan di Universitas Sydney, sambil bekerja paruh waktu sebagai perawat terdaftar di Rumah Sakit Royal North Shore. Sepulang ke Singapura, ia bergabung dengan Pusat Kanker Rumah Sakit Universitas Nasional, membantu mengembangkan layanan onkologi ginekologi—mulai dari perawatan bedah, uji klinis, hingga konseling genetik dan dukungan pasien.

Sejak 2019 di Rumah Sakit Alexandra, Joyce memimpin riset keperawatan dan praktik berbasis bukti. Perannya berkembang lagi pada 2023 ketika ia terlibat di Tuna55, membangun kerangka pelatihan agar perawat siap memberikan perawatan akut tingkat rumah sakit di rumah pasien. Ia juga tengah menempuh Doktor Praktik Keperawatan untuk memperkuat kepemimpinan klinis di tingkat sistem.

Di balik jabatan dan inovasi, satu hal tak berubah: sentuhan manusia. “Saya tidak bisa membayangkan keperawatan tanpa hubungan antarmanusia,” ujarnya. Baginya, rasa dibutuhkan dan kehadiran nyata bagi pasien adalah sumber motivasi harian.

Leave a Reply