You are currently viewing Pemda Kunci Keamanan Perikanan Nasional

Pemda Kunci Keamanan Perikanan Nasional

Perikanan Nasional dalam persaingan pasar global

Pemda Kunci Keamanan Perikanan Nasional – Penguatan sistem mutu dan keamanan hasil perikanan menjadi kebutuhan yang tidak

terelakkan di tengah meningkatnya standar dan persaingan pasar global. Indonesia tidak lagi cukup hanya menghasilkan produk perikanan dalam

jumlah besar, melainkan juga harus mampu menjamin keamanan pangan, ketertelusuran produk, serta kesesuaian dengan standar internasional yang

berlaku. Dalam kerangka ini, keberadaan otoritas kompeten nasional seperti Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan

Perikanan (BPPMHKP) memiliki peran strategis dalam menjaga kredibilitas sistem nasional. Namun demikian, penguatan peran pemerintah pusat

tidak seharusnya dimaknai sebagai pemusatan seluruh kewenangan pengawasan.

Isu Nasional dengan Pelaksanaan di Daerah

Mutu dan keamanan hasil perikanan merupakan kepentingan nasional, tetapi implementasinya bersifat operasional dan berlangsung di tingkat lokal.

Mengabaikan peran pemerintah daerah justru berpotensi melemahkan sistem pengawasan yang selama ini berjalan efektif di lapangan. Sebagai

negara kepulauan dengan kondisi geografis yang kompleks, aktivitas perikanan Indonesia tersebar dari pesisir terpencil hingga kawasan industri

pengolahan modern. Dalam konteks ini, pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota menjadi aktor yang paling dekat dengan sumber

produksi, pelaku usaha, serta dinamika risiko mutu di wilayahnya. Mereka memahami karakter usaha mikro

dan kecil serta tantangan kepatuhan yang kerap tidak terjangkau oleh kebijakan yang terlalu sentralistik.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah menempatkan urusan perikanan sebagai

urusan Perikanan Nasional dan pemerintahan konkuren , dengan pembagian kewenangan berdasarkan skala kepentingan, efisiensi, dan akuntabilitas.

Mutu dan keamanan hasil perikanan memang memiliki dimensi kepentingan nasional, khususnya terkait ekspor dan perlindungan konsumen,

namun pelaksanaannya menuntut keterlibatan aktif pemerintah daerah. Oleh karena itu, pendekatan yang

tepat bukanlah pengambilalihan kewenangan daerah, melainkan pembagian peran yang jelas dan saling menguatkan.

Perikanan Nasional Sinergi Pusat dan Daerah sebagai Kunci Penguatan Sistem

Berbagai praktik internasional menunjukkan bahwa sistem keamanan pangan dan perikanan yang efektif justru

bertumpu pada desentralisasi operasional. Otoritas nasional berperan menetapkan norma dan standar, menjamin kesetaraan sistem,

serta mewakili negara dalam pengakuan internasional, sementara pemerintah sub-nasional menjalankan pengawasan teknis,

pembinaan pelaku usaha, dan penegakan kepatuhan di lapangan. Model ini terbukti mampu meningkatkan kepatuhan sekaligus

menekan biaya administrasi. Sebaliknya, jika peran daerah dikesampingkan, risiko bottleneck pelayanan, keterlambatan sertifikasi,

dan meningkatnya biaya kepatuhan menjadi ancaman nyata yang pada akhirnya merugikan kepentingan nasional.

Penguatan BPPMHKP seharusnya diposisikan sebagai simpul koordinasi nasional dan penjamin standar,

bukan sebagai pengganti peran teknis daerah. Negara hadir secara utuh bukan melalui pemusatan kewenangan,

melainkan lewat kerja sama yang terintegrasi antara pusat dan daerah. Ke depan, diperlukan penegasan kebijakan

melalui penyesuaian terbatas terhadap kerangka hukum yang ada agar pembagian peran menjadi lebih jelas dan proporsional.

Menjaga mutu dan keamanan hasil perikanan adalah kerja bersama,

dan dalam arsitektur negara sebesar Indonesia, daerah harus tetap menjadi bagian utama Tuna55 dari solusi, bukan disisihkan dari sistem.

Leave a Reply