Di tengah badai tersebut, Alvaro Arbeloa yang baru ditunjuk menggantikan Xabi Alonso langsung menghadapi ujian mental yang sangat berat. Ia menyadari bahwa perbaikan tak bisa hanya bergantung pada taktik dan strategi semata.
Real Madrid tengah berada dalam situasi terpuruk. Setelah gagal meraih trofi Supercopa dan dipermalukan tim divisi dua di ajang Copa del Rey, Los Blancos kini kembali ke Santiago Bernabeu untuk menjamu Levante pada Sabtu (17/1/2026) malam WIB.
Pelatih anyar Madrid itu pun menyampaikan seruan emosional kepada para suporter. Arbeloa secara terbuka meminta publik Bernabeu untuk tetap berdiri di belakang para pemain, bukan justru menekan mereka. Ia ingin para fans menjadi pemain ke-12 yang mampu mengubah arah pertandingan.
Menurut Arbeloa, sejarah panjang 123 tahun Real Madrid selalu memiliki benang merah yang sama: kejayaan hanya lahir ketika seluruh elemen klub—termasuk suporter—bersatu mendukung para pejuang di lapangan.
90 Menit yang Terasa Sangat Panjang
Arbeloa tak menampik rasa kecewa yang kini dirasakan para penggemar. Namun, ia mengingatkan kembali tentang aura magis Santiago Bernabeu yang selama puluhan tahun menjadi momok bagi lawan-lawan di Eropa.
Ia pun mengutip kata-kata legendaris Juanito untuk membangkitkan semangat tribun. Menurutnya, tekanan dari suporter seharusnya diarahkan untuk mengintimidasi lawan, bukan malah membebani pemain sendiri.
Juanito pernah mengatakan bahwa 90 menit di Bernabeu itu sangat panjang (molto longo). Ia tidak mengatakan 90 menit melawan Real Madrid, tetapi 90 menit di Bernabeu, ujar Arbeloa.
Pelatih berusia 43 tahun itu menegaskan bahwa dukungan penuh dari tribun merupakan kunci utama kebangkitan tim musim ini.
Itulah yang saya minta dari para penggemar kami. Terlepas dari kekecewaan yang mereka rasakan, saya ingin mereka berada di sisi kami dan mendukung kami, tambahnya.
Filosofi Kerja Keras ala Arbeloa
Mantan bek sayap Madrid tersebut menolak mencari kambing hitam atas rentetan hasil buruk. Ia memilih pasang badan dan menyatakan dirinya sebagai satu-satunya sosok yang bertanggung jawab.
Arbeloa berjanji akan bekerja tanpa mengenal lelah demi mengembalikan martabat klub. Etos kerja keras menjadi nilai utama yang ia tawarkan untuk meyakinkan publik Bernabeu yang mulai ragu.
Saya sudah mengatakan sejak hari pertama: saya datang ke sini untuk bekerja sejak hari pertama dan selama yang dibutuhkan, demi membawa tim ini kembali ke tempat yang seharusnya, tegasnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa pernyataannya merupakan sindiran terhadap staf pelatih sebelumnya.
Jika ada yang mencoba memelintir kata-kata saya sebagai kritik terhadap Xabi Alonso dan stafnya, mereka akan keliru. Itu sama sekali tidak benar, pungkas Arbeloa.
Bellingham dan Fede, Poros Kebangkitan
Selain aspek mental, Arbeloa menyoroti peran krusial Jude Bellingham dan Federico Valverde. Keduanya diberi kebebasan untuk tampil sebagai pemimpin di atas lapangan.
Bellingham diminta lebih dominan dalam mengatur tempo dan membangun serangan, sementara Valverde dipuji sebagai representasi sejati semangat Madridisme.
Dia (Valverde) berbakat dan mewujudkan semangat Juanito: karakter, kekuatan, komitmen, pengorbanan, dan kualitas. Fede adalah Madridisme murni, puji Arbeloa kepada situs tuna55
Saya menyukai Bellingham karena dia punya kemampuan untuk menciptakan dan membangun permainan. Itulah yang saya minta darinya: memberi dampak nyata di lapangan, tutupnya.