You are currently viewing Tak Ingin Tertinggal dari Uni Eropa, Donald Trump Umumkan Kesepakatan Dagang AS–India

Tak Ingin Tertinggal dari Uni Eropa, Donald Trump Umumkan Kesepakatan Dagang AS–India

Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengumumkan tercapainya kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan India. Langkah ini diumumkan tidak lama setelah Uni Eropa lebih dahulu menjalin perjanjian serupa dengan New Delhi, menandakan upaya Washington menjaga posisi kompetitifnya dalam peta perdagangan global.

Kesepakatan tersebut tercapai di tengah maraknya perjanjian dagang yang diteken oleh sejumlah mitra utama dunia sejak awal tahun, termasuk Uni Eropa, India, China, dan Kanada. Situasi ini sempat menempatkan Amerika Serikat dalam posisi relatif terisolasi akibat kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan terhadap berbagai negara.

Dikutip dari CNBC, Rabu (4/2/2026), para analis menilai rangkaian kesepakatan global itu—terutama perjanjian perdagangan Uni Eropa–India—menjadi faktor pendorong bagi Amerika Serikat untuk mempercepat finalisasi kesepakatan dagangnya dengan India, yang sebelumnya berjalan lambat.

Unggahan Media Sosial Truth

Melalui unggahan di platform media sosial Truth pada Senin, Trump menyampaikan bahwa pemerintah AS akan menurunkan tarif utama atas produk India dari 25 persen menjadi 18 persen. Ia juga menyebut Washington akan mencabut tarif tambahan sebesar 25 persen yang diberlakukan pada musim panas lalu sebagai respons atas pembelian minyak India dari Rusia.

Dalam pernyataannya, Trump mengklaim India akan menghentikan impor minyak Rusia dan beralih membeli lebih dari USD 500 miliar produk asal Amerika Serikat, mulai dari energi, teknologi, hasil pertanian, batu bara, hingga berbagai komoditas lainnya. Ia juga menyebut New Delhi akan menghapus sejumlah hambatan perdagangan terhadap AS. Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi pemerintah yang mengonfirmasi klaim tersebut.

Kesepakatan dagang AS–India ini disambut positif oleh pasar Asia pada Selasa. Pendiri firma analisis Pangaea Policy, Terry Haines, menilai langkah tersebut sebagai jawaban atas persepsi bahwa Uni Eropa mulai unggul dalam persaingan dagang global.

Kesepakatan AS–India merupakan bentuk perdagangan yang mencerminkan keterkaitan ekonomi dan strategi keamanan nasional dalam agenda Trump berikutnya dengan mitra utama AS, ujar Haines.

Ia menambahkan, kesepakatan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Trump mampu menyeimbangkan kepentingan geopolitik dan ekonomi domestik, sekaligus terus mendorong terciptanya perjanjian dagang berskala besar.

Respons Cepat Donald Trump terhadap Langkah Uni Eropa

Kecepatan tercapainya kesepakatan AS–India menarik perhatian analis, mengingat perjanjian tersebut diumumkan hanya sekitar sepekan setelah Uni Eropa dan India mencapai kesepakatan perdagangan bebas (FTA) yang disebut bersejarah.

FTA Uni Eropa–India mencakup penurunan tarif atas berbagai produk impor hingga mendekati nol persen, meski penerapannya dilakukan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. Kedua pihak memuji hasil negosiasi panjang tersebut sebagai salah satu kesepakatan paling signifikan yang pernah dicapai.

Direktur Inisiatif Asia Selatan di Asia Society Policy Institute, Farwa Aamer, menilai penandatanganan pakta AS–India menjadi menarik karena waktunya yang berdekatan dengan FTA Uni Eropa.

Walaupun pembahasan perdagangan India–AS telah berlangsung cukup lama, kesepakatan dengan Uni Eropa tampaknya menjadi pemicu bagi AS untuk bergerak lebih cepat. Keterlibatan langsung para pemimpin tetap menjadi faktor penentu tercapainya kesepakatan, ujarnya.

Perdana Menteri India Narendra Modi pada Senin turut mengonfirmasi bahwa kesepakatan dagang terbaru dengan Amerika Serikat telah dicapai. Ia menyebut produk India kini akan dikenakan tarif lebih rendah sebesar 18 persen, seraya menyampaikan apresiasi terhadap kepemimpinan Presiden Trump.

Meski rincian resmi perjanjian belum sepenuhnya dipublikasikan, sejumlah pengamat menilai kesepakatan ini berpotensi memberikan manfaat bagi kedua negara.

Ini sangat signifikan karena juga berkaitan dengan FTA Uni Eropa. Dengan adanya kesepakatan tersebut, peluang penciptaan lapangan kerja di India akan meningkat, sehingga menguntungkan kedua belah pihak, kata Ranen Banerjee, mitra dan pemimpin penasihat ekonomi PwC India, kepada Tuna55.

Penasihat Asia Selatan di Teneo, Arpit Chaturvedi, menilai kesepakatan dagang AS–India perlu dilihat dalam konteks yang sama dengan perjanjian perdagangan bebas India dan Uni Eropa.

Detail Masih Terbatas, Dampak Jangka Panjang Dipertanyakan

Sejumlah analis mengingatkan bahwa penilaian menyeluruh terhadap dampak kesepakatan ini masih membutuhkan kejelasan detail teknis.

Kepala ekonom Citi untuk India, Samiran Chakraborty, mencatat bahwa unggahan Perdana Menteri Modi tidak menyinggung isu pembelian minyak Rusia. Selain itu, ia menyebut India masih perlu menyesuaikan tarif dan hambatan non-tarif, meski rincian kebijakannya belum diumumkan.

India kemungkinan akan meningkatkan pembelian produk AS, seperti yang disebut Presiden Trump sebesar USD 500 miliar, namun jangka waktu serta detail implementasinya masih belum jelas, ujar Chakraborty.

Sementara itu, Kepala Ekonom UBS Global Wealth Management, Paul Donovan, menilai kesepakatan ini kemungkinan hanya berdampak terbatas bagi konsumen Amerika Serikat yang telah menghadapi kenaikan harga akibat kebijakan tarif global.

Impor dari India menyumbang kurang dari tiga persen dari total impor AS. Penurunan tarif memang mengurangi beban importir, tetapi dampaknya terhadap krisis keterjangkauan di AS diperkirakan minim, kata Donovan dalam podcast UBS.

Leave a Reply